Perangkai kata
Cinta kita lahir dari kata-kata,
dibesarkan oleh metafora,
lalu mati pelan-pelan
saat kenyataan menolak memberi tempat.
Kau mencintai puisiku,
menyebutnya indah,
menyimpannya di kepala,
tapi kau menolak duduk
di kursi hidupku yang kosong.
Aku ini hanya perangkai kata,
terampil menyusun rindu
agar terdengar berani,
namun selalu gagap
ketika harus jujur pada diri sendiri.
Aku memeluk senja
seperti alasan yang tak pernah ditanya,
sementara kau memeluk kemungkinan lain
yang tak perlu bernama aku.
Januari tersenyum sinis,
bulan yang gemar mengajari dengan dingin,
bahwa tidak semua yang elok ditulis
perlu diperjuangkan untuk dimiliki.
Maka aku kembali menulis,
bukan untuk mengetuk hatimu,
melainkan untuk menertawakan diriku sendiri:
seseorang yang berkali-kali jatuh cinta
pada hal-hal yang hanya ingin tinggal
sebagai puisi,
tak pernah sebagai kehidupan.
#Siang #Gerimis

Komentar
Posting Komentar