Berpikir
Teringat pesan guru Fisika, dengan logat kampung yang lebih jujur dari buku-buku tebal: “Be nyak bingung gen be bagus artine sube berpikir.” Sudah mulai bingung saja itu sudah bagus, artinya sudah berpikir. Waktu itu saya tertawa dalam hati. Sekarang saya mengerti, mungkin kebingungan adalah pintu pertama menuju kesadaran. Kita sering mengira berpikir itu berarti tahu banyak hal. Padahal kadang justru sebaliknya: berpikir dimulai ketika kita menyadari bahwa kita tidak tahu. Bingung bukan tanda kelemahan. Ia seperti tanah yang retak sebelum hujan turun. Ada ruang yang terbuka. Ada celah bagi pertanyaan. Lalu apa sebenarnya berpikir itu? Berpikir bukan sekadar otak yang bekerja seperti mesin fotokopi, menyalin apa yang dilihat dan didengar. Ia bukan layar monitor yang pasif menerima data. Berpikir adalah tindakan eksistensial—cara manusia mengambil posisi di hadapan dunia. Manusia hidup dalam banjir stimulus: suara kendaraan, notifikasi ponsel, opini politik, ayat-ayat, janji-janji. Tan...


