Filosofi "Ngurek"
Ada tradisi yang tidak cukup dipahami hanya dengan mata. Ia perlu didekati dengan kesadaran, direnungkan dengan kejernihan pikiran, dan diselami dengan kerendahan hati. Ngurek dalam tradisi Bali, misalnya, bukan hanya menghadirkan pemandangan manusia yang menancapkan keris atau tombak ke tubuhnya dalam keadaan kerauhan. Di balik peristiwa yang tampak di hadapan mata, kita dapat membuka ruang tafsir tentang manusia, egonya, amarahnya, dan hubungannya dengan alam semesta. Tentu, ini bukan satu-satunya makna ngurek, melainkan sebuah pembacaan filosofis terhadap simbol-simbol yang dapat kita renungkan. Keris yang diarahkan ke ulu hati, dalam tafsir simbolis, mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang lebih sulit ditaklukkan daripada rasa sakit fisik: diri kita sendiri. Kita sering merasa berani ketika menghadapi musuh di luar sana, tetapi gemetar ketika harus berhadapan dengan kebencian yang kita pelihara. Kita berani mengkritik kesalahan orang lain, tetapi mencari seribu alasan ketika dimin...

