Semerbak Rindu

Semerbak rindu itu masih hidup,

tapi kau rawat dalam diam.
Kau lipat ia rapi, kau tekan ke palung terdalam,
agar dunia hanya melihat wajah yang tampak kuat,
bukan retak yang kau sembunyikan di dada.

Rintiknya jatuh perlahan,
bukan sebagai hujan,
melainkan waktu yang menetes satu-satu.
Ia mengisi ruang kosong yang sengaja kau biarkan bernama sepi.
Di setiap tetesnya ada namaku,
ada kenangan yang tak pernah benar-benar pergi—
ia hanya belajar bersembunyi
di balik senyum yang kau pakai
untuk menenangkan siapa pun selain dirimu sendiri.

Kau menyebut rindu sebagai perkara kecil,
seolah ia bisa diusir dengan logika dan kesibukan.
Padahal ia api yang tahu caranya bertahan,
menyala pelan,
menunggu saat lengah untuk menghanguskan malam.
Dan pada jam-jam paling sunyi,
kau menyerah—
bukan pada luka,
melainkan pada ingatan yang terlalu jujur untuk disangkal.

Rintik itu lalu menjelma doa-doa bisu.
Kau kirimkan ke langit tanpa alamat, tanpa tuntutan.
Tak ada nama yang kau sebut,
hanya satu harap sederhana:
agar aku baik-baik saja di tempatku,
sementara kau belajar akrab dengan gelisahmu sendiri.
Beginilah caramu mengasihi:
tanpa suara, tanpa kepemilikan,
cukup dengan menahan diri
agar tak ada yang terluka.

Jika kelak rintik itu menjadi hujan,
biarkan ia turun sebentar saja.
Membersihkan lelah yang terlalu lama kau sembunyikan.
Sebab kasih tak selalu menuntut pertemuan.
Kadang ia cukup bertahan,
menjadi rindu yang setia dalam diam—
tak diucapkan,
tak diakui,
disimpan rapi
di palung terdalam
yang kita sebut hati.



Komentar

Postingan Populer