Sisyphus dan Camus

Kadang aku merasa hidup ini seperti lelucon kosmik yang tak pernah selesai. Kita lahir tanpa buku panduan, tumbuh dengan harapan yang kita ambil dari orang lain, lalu bekerja sepanjang hidup demi sesuatu yang bahkan tidak kita mengerti. Kita capek, kita marah, kita bingung—tapi tetap berjalan juga, seperti mesin yang lupa alasan dibuat.

Di sinilah Camus biasanya datang, membawa semacam kejujuran yang tidak dibalut hikmah palsu. Ia bilang: hidup itu absurd. Tidak ada janji manis. Tidak ada jaminan kalau usaha kita akan berhasil. Tidak ada kontrak tertulis bahwa cinta akan dibalas, bahwa kebaikan akan menang, atau bahwa kerja keras akan dihargai.

Kita hanya mendorong batu masing-masing.

Dan di situ masuklah Sisyphus: lelaki yang dihukum untuk mendorong batu ke atas gunung hanya untuk melihatnya jatuh lagi, berulang-ulang sampai akhir zaman. Ia bukan cuma tokoh mitologi—dia adalah bayangan kita di cermin.

Setiap pagi kita bangun, menarik napas panjang, lalu menjalani hari. Pulang dengan tubuh lelah dan pikiran yang sempit, tidur, lalu mengulangnya lagi. Kita jatuh cinta dan patah hati. Kita membangun sesuatu yang retak pelan-pelan. Kita mengejar mimpi yang terus bergeser seperti bayangan di sore hari. Batu kita punya banyak bentuk—tagihan bulanan, tanggung jawab keluarga, ambisi pribadi, rasa takut gagal, haus akan pengakuan.

Yang membuat kisah Sisyphus penting bukanlah batunya, tapi kesadarannya. Dia tahu batunya akan jatuh. Dia tahu tidak ada hadiah. Tapi dia tetap mendorong.

Camus bilang manusia cuma punya tiga pilihan: menyerah pada kematian, kabur lewat iman atau ideologi, atau memberontak—bukan memberontak dengan teriakan, tapi dengan cara yang jauh lebih tenang: menerima kenyataan apa adanya, lalu tetap berjalan.

Dan di situlah letak keindahannya.
Pemberontakan bukan soal melawan dunia, tapi melawan ilusi-ilusi yang kita buat sendiri.

Sekarang lihat hidup kita. Kita mendorong batu sambil berharap suatu saat batu itu berubah jadi pintu surga, jadi tiket sukses, jadi simbol bahwa segala perjuangan kita berarti. Kita percaya caption motivasi, percaya trik-trik cepat, percaya bahwa orang lain telah “sampai” pada sesuatu yang kita belum. Padahal mereka juga sama—sesak, bingung, terus berusaha memahami hidup yang tak pernah jelas.

Camus, dengan kalimat yang pelan tapi menusuk, menulis:
“One must imagine Sisyphus happy.”
Orang harus membayangkan Sisyphus bahagia.

Bukan karena ia menang.
Bukan karena ia sampai.
Bukan karena ia menemukan makna tersembunyi.

Tapi karena ia memilih sadar.

Momen paling penting dalam kisah itu bukan ketika ia mendorong batu, tapi ketika ia berjalan turun kembali ke dasar gunung, sendirian, tahu betul apa yang menunggunya, dan tetap melangkah.

Ada kebebasan kecil di sana. Kebebasan yang tidak glamor, tidak heroik, tapi nyata:
kita boleh memilih bagaimana menjalani sesuatu yang tidak bisa kita ubah.

Dan mungkin itu cukup.
Mungkin itu yang membuat kita manusia.

Jadi mungkin pertanyaan hidup bukan “Untuk apa aku hidup?”
Pertanyaan itu terlalu besar, terlalu mengawang, terlalu banyak jebakannya.

Pertanyaannya lebih sederhana:
“Dengan cara apa aku ingin menjalani hari ini?”

Karena batunya akan tetap ada.
Bebannya mungkin tidak berubah.
Tapi cara kita menatapnya, cara kita menyentuhnya, cara kita menanggungnya—itu milik kita sepenuhnya.

Di situlah, kata Camus, manusia jadi bebas.
Dan siapa tahu, di sela itu, kita mungkin bisa merasakan sedikit kebahagiaan juga.

Komentar

Postingan Populer