Pikiran itu ...?
Ada orang yang berkata, pikiran adalah penyakit.
Ada pula yang berbisik lebih radikal: berhentilah berpikir, maka engkau akan selamat.
Kalimat-kalimat itu terdengar seperti nasihat suci. Tenang. Dalam. Seolah-olah kebebasan hanya sejauh tombol “off” di kepala.
Namun diam-diam kita lupa satu hal sederhana:
yang menilai pikiran sebagai penyakit—adalah pikiran itu sendiri.
Kita sering bergeser terlalu jauh. Dari satu ekstrem ke ekstrem lain. Dari memuja rasio menjadi budaknya, lalu dari lelah menjadi ingin membuangnya. Seperti seseorang yang kecewa pada bayangannya sendiri, lalu memutuskan mematikan lampu.
Padahal masalahnya bukan pada cahaya.
Yang menjadi persoalan bukan keberadaan pikiran. Ia bukan musuh. Ia juga bukan tiran. Ia hanyalah fungsi—alat—gerak alami dari kesadaran yang hidup.
Kebingungan mulai tumbuh ketika fungsi diangkat menjadi identitas.
Ketika kita tidak lagi berkata, “Saya memiliki pikiran,”
melainkan, “Saya adalah pikiran itu.”
Di situlah simpul mengencang.
Ketika setiap lintasan ide dianggap sebagai diri, setiap keraguan terasa seperti ancaman eksistensi. Ketika opini ditentang, kita merasa diri diserang. Ketika gagasan runtuh, kita merasa ikut hancur.
Padahal pikiran hanyalah proses.
Ia bergerak, berubah, berganti bentuk.
Ia seperti awan yang melintas di langit batin.
Masalah muncul ketika awan itu mengaku sebagai langit.
Karena itu imajinasi bukan ilusi yang harus disingkirkan. Ia bukan kabut yang menyesatkan. Ia adalah daya kreatif yang membuat manusia mampu membangun jembatan sebelum batu pertama diletakkan. Ia memungkinkan dunia dibentuk kembali—bukan hanya diterima apa adanya.
Tanpa imajinasi, tidak ada seni.
Tanpa imajinasi, tidak ada sains.
Tanpa imajinasi, bahkan doa pun kehilangan sayapnya.
Inspirasi pun bukan larangan. Ia bukan gangguan yang harus ditenangkan. Ia adalah gerak spontan—seperti percikan api yang tiba-tiba menyala di ruang gelap kemungkinan. Ia menyingkap pintu yang sebelumnya tak terlihat.
Mengapa kita harus memusuhi gerak yang justru membuat kehidupan terus menemukan bentuknya?
Pikiran bukan entitas yang berdiri sendiri. Ia bukan benda padat yang terpisah dari kehidupan. Ia adalah gerakan itu sendiri. Sebagaimana ombak adalah gerak dari laut.
Apakah laut perlu memusuhi ombaknya?
Apakah ia harus berkata, “Berhentilah bergerak, karena gerakmu mengganggu ketenanganku”?
Ombak tidak pernah terpisah dari laut. Ia bukan pemberontak. Ia hanyalah cara laut menari dalam kealamiahnya.
Begitu pula pikiran. Ia adalah cara kesadaran bergerak dalam kemanusiaannya.
Yang perlu dilihat bukan bagaimana menghentikan ombak, melainkan bagaimana menyadari bahwa kita adalah laut—bukan sekadar buih yang sementara.
Saat identitas tidak lagi melekat pada setiap gelombang, pikiran boleh bergerak tanpa menimbulkan badai. Ia boleh datang dan pergi tanpa harus diseret menjadi pusat diri.
Berpikir bukanlah dosa.
Terjebak di dalamnya tanpa jarak—itulah yang melelahkan.
Kita tidak perlu mematikan pikiran.
Kita hanya perlu tidak tersesat di dalamnya.
Seperti laut yang tetap luas meski ombak terus bergulung, kesadaran tetap utuh meski pikiran terus bergerak. Tidak ada yang perlu diperangi. Tidak ada yang harus dimusnahkan.
Karena pada akhirnya, kebebasan bukan tentang berhenti berpikir.
Melainkan tentang mengetahui bahwa kita lebih luas daripada setiap pikiran yang lewat.


Komentar
Posting Komentar