Cinta, Kehilangan dan merelakan

Mencintai memang indah. Tapi keindahan selalu punya harga. Dan harga itu bernama kehilangan.

Semakin dalam seseorang mencintai, semakin kuat ia menanam yang dicintainya di dalam dirinya. Bukan hanya di hati—itu istilah puitis saja. Yang terjadi sesungguhnya lebih biologis, lebih purba. Kehadiran seseorang terekam di bagian otak paling primitif, bagian yang mengatur rasa aman, rasa memiliki, rasa terikat.

Di sana, cinta bukan sekadar perasaan. Ia menjadi kebutuhan.

Itulah sebabnya ketika seseorang pergi—entah karena berpisah atau karena mati—yang tersisa bukan hanya kenangan. Yang tersisa adalah sistem yang kehilangan objek keterikatannya. Otak masih merekam suaranya, aromanya, kebiasaannya. Seolah ia masih ada.

Bukan karena kita lemah.
Bukan karena kita tak mau merelakan.

Memang begitulah mekanisme kerja kesadaran.

Otak tidak mudah membedakan antara yang nyata dan yang pernah begitu nyata. Rekaman yang terlalu kuat sering kali terasa lebih hidup daripada realitas yang sudah berubah. Maka wajar jika kehilangan terasa seperti separuh diri ikut tercabut.

Cinta menanam. Kehilangan mencabut.
Dan yang tercabut selalu menyisakan luka.

Lalu ada mereka yang memilih lajang. Yang tidak menanam terlalu dalam. Yang menjaga jarak dari keterikatan yang intens. Secara biologis, mungkin benar—mereka tidak menyimpan rekaman sekuat itu. Mereka tidak akan merasakan patah yang sama dalamnya.

Tapi hidup memang selalu tentang pilihan risiko.

Mereka yang tidak mencintai dalam, mungkin terhindar dari sakit yang dalam. Namun mereka juga tidak tenggelam dalam keindahan yang dalam.

Cinta adalah paket lengkap.
Ia membawa euforia sekaligus potensi duka.

Sebagian orang ingin hanya bunganya tanpa durinya. Sebagian lagi memilih tidak menyentuh mawar sama sekali agar tak terluka. Tidak ada yang salah. Hanya pilihan cara hidup.

Bagi saya, mencintai adalah keberanian untuk sadar bahwa suatu hari kita bisa kehilangan. Dan kehilangan adalah pengingat bahwa yang pernah kita rasakan itu nyata, begitu nyata sampai otak pun sulit menghapusnya.

Maka mungkin persoalannya bukan pada menghindari cinta agar tak sakit.
Melainkan pada menyadari sejak awal: setiap keterikatan adalah latihan melepaskan.

Cinta mengajarkan kita merasakan.
Kehilangan mengajarkan kita memahami.

Dan di antara keduanya, manusia belajar menjadi dewasa.

Komentar

Postingan Populer