Selamat Merayakan
Manakala bunga di hatiku sedang mekar, aku tak lagi tergesa mencari arti dari keindahan. Sebab keindahan bukanlah sesuatu yang harus dikejar, melainkan sesuatu yang perlahan tumbuh di dalam dada,dari benih kesabaran, dari air mata yang pernah jatuh, dari tawa yang pernah dipaksa bahagia.
Aku berharap keindahan itu benar-benar terjadi padaku. Dan bila memang demikian adanya, biarlah aku percaya bahwa setiap indah yang datang bukan hanya untukku, melainkan juga untuk setiap rasa yang singgah, setiap jiwa yang sempat mencium harum kelopak hatiku.
Sebab aku tahu, tak ada jalan lain menuju mawarmu selain dengan menjadi taman itu sendiri. Tak ada api yang sanggup memadamkan cahaya yang lahir dari cinta yang benar. Engkau adalah dinding yang menahan dingin rinduku, dan aku, api kecil yang terus mencari pelukanmu di tengah angin yang berhembus tak tentu.
Aku membayangkan engkau sekuntum bunga di kebunku. Waktu adalah embun di kelopakmu, dan aku,sang penjaga yang selalu datang pagi-pagi, hanya untuk memastikan bahwa engkau masih mekar. Dalam lingkaran sunyi, aku mencari senyummu, sebab hanya di sanalah hidupku terasa utuh.
Tunjukkanlah warna aslimu, kasih. Warna yang tak dibuat-buat oleh musim atau mata yang menilai. Rayakan dirimu sebagaimana bunga liar merayakan cahaya matahari: dengan sederhana, tapi penuh sukacita. Tak mengapa terlambat mekar,beberapa keindahan memang membutuhkan waktu untuk benar-benar dimengerti.
Bayangkan dirimu di sebuah kebun. Di tanganmu, ada segenggam benih. Kau bisa menanam apa saja: kasih sayang yang berlimpah, atau ketakutan yang membuat tanahmu tandus. Kau bisa menanam di kebun orang lain, atau kau bisa memilih menumbuhkan keindahanmu sendiri. Semua bergantung pada niat yang kau siram setiap pagi.
Dan bila suatu ketika kamu merasa malu menjadi dirimu, ingatlah: setiap perahu punya rumah jiwanya masing-masing. Tak ada satu bentuk yang terlalu kecil untuk samudra yang luas, sebab yang penting bukan kapalmu,melainkan arah hatimu.
Kita memang berada di badai yang sama, tapi bukan di perahu yang sama. Ada yang berlayar dengan kapal megah, ada yang hanya berpegangan pada dayung kecil. Namun bila angin menerpa kita dengan deru yang sama, biarlah kita tetap berbaik hati,menolong satu sama lain agar tetap terapung, agar tetap hidup.
Biarkan tawa menari di bibirmu, walau hari ini terasa berat. Biarkan kebahagiaan menjadi cahaya yang memancar dari dalammu, tempat di mana kesehatan dan kedamaian saling bertemu.
Terlalu sering kita lupa pada kekuatan sederhana: sentuhan lembut di bahu yang letih, senyum yang lahir tanpa alasan, kata-kata manis yang meneduhkan, telinga yang mau mendengar tanpa menghakimi. Semua itu,sekecil apa pun,adalah tangan-tangan Tak nampak yang bekerja diam-diam, memutar roda kehidupan agar tetap indah.
Putarkanlah lagi untukku indahnya kehidupan itu,pada kekuatan sentuhan, pada kejujuran ucapan, pada kehangatan senyum yang mengisi rumah jiwaku.
Sebab ketika bunga di hatiku sedang mekar, aku tahu: cinta tak lagi butuh alasan untuk tumbuh. Ia hanya butuh dirawat dengan kesadaran bahwa setiap keindahan sejati, selalu lahir dari kebaikan yang tulus.

Komentar
Posting Komentar